Ribuan orang telah memaknai Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dengan berbagai pemikiran melalui tulisan maupun dengan peRrayaan yang dilaksanakan mulai tingkat RT sampai tingkat Negara. Sedang saya lebih memaknai kemerdekaan sebagai anugerah Allah SWT kepada bangsa ini, anugerah yang tidak terkira. Tanpa mengecilkan jasa para pahlawan bangsa ini, sejarah menorehkan bahwa Indonesia tidak pernah benar-benar berhasil mengusir penjajah dari Nusantara. Portugis dan Spanyol diusir Belanda. Belanda yang hanya sebuah negara kecil di Eropa – yang bahkan juga tengah dijajah oleh Napoleon, Prancis – hanya mampu diusir oleh Jepang. Jepang pun ditaklukkan oleh Sekutu.
Yang dimenangkan oleh Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pattimura dan lain-lain hanyalah pertempuran-pertempuran yang bersifat primordial lokal. Secara total, bangsa Indonesia tak pernah mampu mengalahkan penjajah dan mengusir sendiri para imperialis itu. Lihat saja! Belanda – kemudian – selalu berhasil memadamkan perlawanan dari para pahlawan tersebut. Jadi benarlah kemerdekaan sebuah rahmat dari Allah SWT.
Dalam pembukaan UUD 1945 yang sebenarnya merupakan naskah Piagam Jakarta telah disebutkan dengan jelas, bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Jika kita menyadari bahwa kemerdekaan adalah rahmat Allah, maka seharusnya kita memanfaatkan dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang diridhai oleh Allah.
Lalu, apa sebenarnya yang diharapkan oleh Tuhan dari kemerdekaan yang telah Ia anugerahkan kepada kita ini? Tentu saja kepatuhan dan ketaatan kepada-Nya. Ia ingin melihat sejauh mana bangsa ini bersyukur atas kemerdekaan yang telah Ia berikan. Namun, apa yang terjadi? Ternyata rahmat Allah SWT dibalas dengan perilaku korup, suap, mementingkan golongan dan haus kekuasaan. Dan lihatlah hasilnya, bangsa ini masih banyak di rundung masalah yang tidak berkesudahan, kemiskinan, pengangguran, dipandang sebelah mata oleh negara lain, rendahnya tingkat pendidikan dan lain-lain.
Setelah tahu dan mengaku kalau Tuhan lah yang memerdekakan kita, mengapa tidak memilih jalan-Nya, Apakah memilih jalan lain adalah hal yang logis untuk bersyukur?
Komentar Teman-Teman